Adikku,
Taarufanku
Oleh: Mokh.
Yahya
Kisah-kisah perjuangan terkenang lagi saat menjelang peringatan
Hari Kemerdekaan bangsa Indonesia. Begitu pun di pondok pesantren yang aku
tempati.
“Mas, sekarang panjenengan yang teruskan soal LCC-nya, saya
hendak ke belakang dulu.”
“O, ya dek, silakan!”
“ehem-ehem”, muncul suara
deheman salah seorang santri putri dari balik jendela aula putri.
Kuhiraukan saja ledekan itu. Selang beberapa saat, muncul lagi deheman dari
salah seorang santri lain yang kebetulan lewat di depan kami. Terlepas dari
itu, tiba-tiba deheman-deheman itu membuatku merasa bahagia, entah
mengapa. Mungkin hanya Tuhan lah yang tahu.
Di suatu hari ketika aku sedang duduk-duduk di depan pondok putra,
kulihat segerombolan burung yang sedang beterbangan dan menari indah di atas
rumah salah seorang penduduk di samping pondok. Dari lantai 2 ini, bisa kulihat
panorama indah di lingkungan pondok pesantren ini. Pemandangan yang begitu
menawan dan masih asri. Di tengah-tengah gerombolan burung yang kemudian
berpencar itu, muncul wajah seorang gadis berjilbab yang sangat anggun dan
memesona dari balik awan yang biasa menghiasi langit biru di saat sang raja siang
mulai menampakkan kejantanannya. Jilbabnya merah dan agak besar sehingga bisa
menutup hal-hal yang kurang pantas dilihat orang yang suka memandang. Gadis itu
tersenyum simpul padaku. Itulah yang membuat tatapanku tak beralih sedikitpun. Namun,
ketika aku membalas senyum itu, wajah gadis itu langsung menghilang seperti
dihisap oleh langit. Tanpa kusadari, ternyata itu hanya lamunanku yang tiba-tiba
buyar ketika salah seorang teman karibku menyentuh pundakku.
“Hai, ayo salat dulu, sudah pukul satu ni loh”, ajak kang
Habib kepadaku.
Tak kusadari lamunanku membuatku lupa akan kewajibanku sebagai
seorang abdi terhadap Sang Kholik.
“Astagfirullah”, ucapku dalam hati.
“Maafkan hamba-Mu yang telah lalai ini ya Allah!”.
Bergegas kuhampiri teman-temanku yang sedang mengambil air wudu di
pancuran depan pondok putra. Maklumlah, mereka juga baru selesai pulang dari
sekolah yang jaraknya sekitar 1 km dari pondokku, Pondok Pesantren At-taqwa,
pondok yang baru dua tahun didirikan, tempatku mengarungi samudera ilmu dari sang
kiai dengan berbekal bahtera rida umi dan abi. Ya, baru dua tahun juga aku
menempati pondok ini.
“Ehem, tadi melamun siapa ya?”, tanya kang Habib, “sambil
senyum-senyum melirikku”
“Tadi aku sedang memikirkan sekolahku kok, Kang.”
“O, aku kira sedang melamun
. . .”
“Eh, maaf kang, aku harus ke Ndalem sekarang juga. Tadi kata
kang Affan aku disuruh ke sana”, kataku sambil mengambil sandal yang sudah
menanti di depanku sejak aku keluar dari aula.
“Hem, anak yang aneh, dia kira aku tidak tahu apa yang dia pikirkan.”
Aku pun menuju rumah Abah, panggilan untuk kiai di pondok pesantren
yang aku tempati.
------------------------------------------------------------------------------------------
“Alhamdulillah, selesai juga tugasku.” Kuayunkan kakiku untuk
melanjutkan perjalanan menuju pondok pesantren. Matahari sudah condong ke arah
barat. Kulihat bayangan yang sudah sama panjangnya dengan badanku. Menunjukkan
waktu Asar sudah masuk.
“Allahu Akbar . . . . . Allahu Akbar . . . ”
“Asyhadu anla ilaha illallah”.
Terdengar lantunan azan yang sangat menyentuh batinku dari arah Masjid
Al-Muttaqin. Ya, tidak salah lagi,
suara azan itu dilantunkan oleh
kang Affan, salah satu santri pondokku yang pernah meraih juara ke-2 lomba azan
tingkat kabupaten mewakili sekolahku.
Sebelum memasuki
pintu gerbang pondok, kulihat bidadari-bidadari yang sedang keluar dari pintu
gerbang menuju sumber suara azan tadi. Pakaiannya putih-putih. Ada yang sedang
bercengkerama dengan teman di sebelahnya. Ada pula salah seorang yang selalu
menunduk ke bawah. Makhluk yang satu ini tidak seperti yang lain. Pakaian
sucinya berwarna merah muda. Ketika kupandang wajah ayunya, dia juga
memandangku sambil tersenyum. Aku pun membalas senyuman itu. Pertemuan kali ini
membuatku merasa lebih bahagia daripada pertemuan sebelumnya. Ya, waktu bertemu
dalam membuat soal LCC kemarin. Setelah bidadari-bidadari surga itu berlalu
dari pandanganku, kulangkahkan lagi kakiku memasuki arena halaman pondok
pesantren. Karena yang lain sudah berangkat ke masjid, aku tidak mengantre lagi
untuk mandi. Jadi, aku bisa segera mandi dan melangkah ke masjid untuk
berjamaah.
======oooo======
“Ya Allah, Zat Yang Maha Pemilik Segala Cinta, apakah ini yang
namanya cinta? Di saat aku berada di dekatnya, hatiku merasa bahagia. Kadang
aku merasa gugup, kadang pula aku merasa malu. Jika cinta ini membuatku lebih dekat
kepada-Mu, jagalah ya Allah! Dan jika cinta ini dapat menjauhkan diriku
dari-Mu, hilangkanlah ya Allah”. Kupanjatkan doa ini ketika malam mulai hening.
Ketika desiran angin tidak lagi berayun-ayun manja di alam yang hampir berganti masa.
Dingin mulai merasuk ke dalam sumsum jiwa yang hampir beku ketika
suara-suara santri yang lain sudah tidak terdengar lagi. Ya, hanya di malam
yang hening seperti ini, aku bisa mencurahkan rasa yang indah ini kepada Yang
Maha Pemberi Nikmat. Tidak terasa aku tertidur dalam sujudku di atas sajadah
biru yang sudah dua tahun menemaniku mengabdi kepada Yang Mahasempurna.
Detik berganti menit, menit berganti jam, jam berganti hari. Tibalah
hari yang sangat tidak terduga-duga. Akan ada kabar manis yang aku terima.
Karena hari ini hari Jumat, sekolahku, SMAN 1 Pusarangin, mengakhiri KBM pukul
11.00 WIB. Sama halnya dengan SMP Nurul Khoir, SMP yang berada di bawah naungan
yang sama dengan pondokku. Sekolahku dan SMP Nurul Khoir terletak bersebelahan,
hanya dipisahkan oleh pagar besi pembatas masing-masing sekolah. Pada waktu
itu, aku bertemu dengan mbak Farah, salah seorang santri putri yang masih kelas
tiga di SMP Nurul Khoir.
“Eh mas, Fauza ingin menjadi adik angkatnya mas.” Ujar mbak Farah
kepadaku. Aku pura-pura kurang paham maksud mbak Farah karena takut salah
dengar. Karena jalan begitu sesak dipenuhi para siswa dari dua sekolah itu,
kami tidak bisa berbicara terlalu lama. “Apa aku salah dengar ya? Apa benar de’
Fauza ingin menjadi adikku? Sepertinya aku salah dengar”, gumamku dalam hati.
Keesokan harinya, aku bertemu lagi dengan mbak Fara di dekat pintu
gerbang pondok. Kutanyakan lagi perkataan mbak Fara yang masih membuatku
penasaran.
“Oh ya mbak, kemarin panjenengan bilang apa? Maaf, kemarin
kurang jelas karena ramai sekali.”
“Oh yang kemarin, Fauza ingin menjadi adiknya mas, adik angkat
maksudnya”, jawab mbak Fara.
“Berarti kemarin aku tidak salah dengar”, ucapku dalam hati, ”Oh
begitu. Ya sudah, bagaimana kalau de’ Fauzanya disuruh bilang sendiri saja?
Saya ingin mendengarnya langsung.”
“Nggih mas, nanti saya bilang ke orangnya langsung”.
Penjelasan itu tidak berlangsung lama karena kami takut kalau
timbul fitnah di antara kami. Kami pun melanjutkan aktivitas masing-masing.
Setelah mengikuti
pengajian Madrasah Diniyah yang selesai pukul 21.00 WIB, kulihat Fadil, teman
sekamarku yang paling akrab denganku, sedang senyum-senyum sendiri sambil
membaca sebuah inbox di HP-nya. Kemudian kuhampiri dia.
“Ada apa kang,
senyum-senyum sendiri?” tanyaku.
“Oh ini baru dapat
pesan dari seseorang.”
“Hayo siapa?
Cerita dong!” paksaku kepadanya.
“Oh ya kang,
tetapi jangan cerita-cerita ke orang lain ya!”
“Okelah kalau
begitu.”
“Begini mas,
sebenarnya aku sudah jadian sama Fauza. Janji ya, jangan bilang ke orang lain!”
Seketika itu, hatiku serasa tertusuk. Aku berpura-pura ikut bahagia
mendengar pengakuan Fadil.
“Selamat ya, dan ingat!
Jangan sampai kamu kecewakan dia. Oke?”, kataku seraya menepuk bahu
Fadil. Padahal hatiku merasa kurang setuju. Namun, tetap kupaksakan untuk
menerima hal itu.
“Insya Allah, Kang”, ujar Fadil sambil tersenyum sendiri dan
berbalik arah untuk melanjutkan sms-annya. Ya, aku juga maklum, mereka masih dalam
tahap perkembangan remaja awal. Paling-paling hanya cinta monyet. Seperti di
film-film atau sinetron-sinetron yang sering ditayangkan di televisi.
Malam mulai larut tanpa mengenal cahaya. Ayam pun mulai mengemban
amanahnya hingga sang mentari pun menggeser sinar bulan yang tadi malam tidak
secerah biasanya. Mungkin ikut merasakan seperti yang aku rasakan tadi malam.
Aku merasa hari ini sang mentari tidak berkelana begitu lama di langit. Bulan
pun muncul kembali dengan sinarnya yang terang, tidak seperti malam sebelumnya.
“ Dreeeeeeeeet dreeeeeeeeet.” Terasa ada yang bergetar di sakuku.
Sepertinya ada pesan di inbox-ku. Ya, tidak salah lagi. Kubaca sebuah
pesan itu.
Assalamu’alaikum wr. wb.
Mas, bagaimana kabarnya?
(Fauza)
“Subhanallah, aku mendapat pesan dari de’ Fauza.” Tanpa pikir
panjang, aku langsung membalas pesan itu.
Wa’alaikumussalam
wr. wb. Alhamdulillah bikhoir.
Oh ya, kemarin mbak Fara bilang kalau panjenengan
ingin menjadi adik mas ya?
Apa benar, De’?
Kukirim pesan ini ke nomor mbak Fauza. Beberapa saat kemudian, ada
balasan lagi.
Oh ya, Mas.
Menurutku, mas itu orangnya
baik, sopan, dan berbeda dengan yang lain.
Apa mas bersedia jadi kakak angkat Fauza?Kalau bersedia,
mas boleh memanggil dengan sebutan De’.
Subhanallah, hatiku rasanya bahagia sekali. Sebenarnya, tanpa dia
memintaku memanggil dengan sebutan De’, aku juga sudah memanggilnya dengan
sebutan itu. Mungkin Allah hendak mendekatkanku padanya dengan cara seperti
ini. Tidak kusangka ternyata seseorang yang aku yang kukasihi bisa dekat
denganku. Mulai saat itu, hubungan kami makin lama makin dekat melebihi
hubungannya dengan Fadil.
SMS pun silih berganti berlarian dari HP-ku menuju HP-nya Fauza,
dan sebaliknya. Kami begitu cepat akrab walaupun hanya sekadar hubungan kakak-beradik,
hubungan yang terjalin atas permintaan Fauza.
Detik demi detik merangkai menit. Menit berlalu berganti jam. Jam
pun segera berputar ingin menggapai hari yang sebentar lagi menjemput minggu.
Minggu tak kuasa lagi untuk menunggu bulan.
Hingga saatnya aku harus pindah ke luar kota untuk meneruskan studiku.
Alhamdulillah aku diterima di sebuah PTN ternama di daerah Jawa Tengah dengan
beasiswa pula. Sungguh tidak disangka-sangka aku bisa melanjutkan ke perguruan
tinggi negeri.
---------------------------------------------------------------------------------
Tibalah saatnya aku harus pulang karena masa studiku di SMA dan
Pondok Pesantren sudah selesai. Setelah
wisuda pada hari Selasa, aku sudah berniat untuk pulang hari Rabu karena
sudah disuruh orang tuaku. Akan tetapi, kepulanganku tertunda karena de’ Fauza
belum siap kalau harus berpisah denganku walaupun aku hanya kakak angkatnya.
Bahkan, hari berikutnya pun aku tidak jadi pulang lagi karena dia. Akhirnya aku
pulang hari Jumat, tepatnya setelah salat Jumat. Semua pakaianku sudah aku
masukkan ke tas punggungku yang biasa aku pakai ke sekolah.
Terasa getaran di saku celanaku. Kubaca pesan yang muncul.
“Mas, Fauza nangis terus. Bagaimana dong, Mas?” Kubaca pesan
dari mbak Faiz.
Sesaat aku terdiam. “Apa yang harus aku lakukan? Apa aku harus
tetap di sini. Ibu sudah menantiku di rumah. Aku harus segera pulang”, ucapku
dalam hati. Sebenarnya aku juga tidak tega meninggalkannya. Namun, aku harus
pulang. Biar bagaimana pun, aku tetap akan pulang. Entah seberapa banyak butir
air mata, Fauza teteskan atas kepulanganku.
Malam itu, aku memberanikan diri untuk mengirim pesan kepada Fauza.
Aku agak khawatir bila dia marah setelah membaca surat yang aku titipkan
untuknya sebelum aku pulang.
“De’, sudah baca surat dari mas?”
“Sudah, Mas.”
“Maafkan mas karena selama ini telah menyayangi de’ Fauza secara
diam-diam. Mas harap de’ Fauza tidak marah kepada mas, apalagi menjauhi mas.”
“Mengapa Fauza harus marah kepada mas. Malah Fauza bahagia sekali
karena mas telah jujur.”
Alhamdulillah, berarti de’ Fauza tidak marah. Malam makin larut,
entah seperti apa kami mengakhiri sms-an kami.
Tepat hari Sabtu, 15-05-2010 pukul 15.05 aku memberanikan diri
untuk menjalin hubungan yang lebih dalam di antara aku dan Fauza walaupun hanya
dengan pesan singkat. Betapa indahnya angka-angka itu. Kukirimkan sebuah pesan
untuk Fauza.
“Perahu hatiku telah lama berlayar. Namun, tak kunjung ada
pelabuhan yang terlintas. Saat aku menemukan pelabuhan itu, apakah pelabuhan
itu bersedia menerima perahu hatiku untuk singgah?”
“Pelabuhan ini sungguh bahagia jika ada perahu yang hendak singgah,
tetapi aku adalah pelabuhan yang kecil dan kumuh. Apakah perahu itu akan tetap
singgah?”
“Perahu ini akan tetap singgah walaupun pelabuhan itu kecil dan
kumuh karena keindahan pelabuhan itu dapat dilihat oleh perahu ini dari hati
sanubari.”
+++++++++++++++++
Tidak ada komentar:
Posting Komentar